-eNZie-


Bagian Anak di Tangerang
April 26, 2008, 8:40 pm
Filed under: Uncategorized

Senangnya kembali ke rumah, meskipun di rumah ga ada siapa-siapa, atau ada makanan apa, tapi tetep aja rumah itu adalah tempat yang paling menyenangkan.

Jadi ceritanya 1 minggu ini aku bersama teman2 kelompok Anak stase di Tangerang (arti stase apaan ya?!).Di sana kami tinggal di asrama di RSU Tangerang.Walaupun sekamar mesti tidur beramai-ramai, kadang 4, kadang 5, rekornya sih ber-8,hehe..di tempat yang harusnya cuma untuk 4 orang. Kerjaan di sana jauh lebih ringan dibanding waktu IPD dulu, jadi lebih banyak waktu untuk jalan2 dan makan2. Kayaknya berat badan nambah lagi nih,hehe.

Sebenarnya stase di Tangerang selesai hari Sabtu siang, tapi karena aku dan seorang teman mendapat giliran jaga, jadi kami berdua ditinggal di sana, hiks..hiks..sepi. Alhamdulillah selama jaga enggak ada kasus yang aneh2 dan gawat, doa kami dikabulkan, anak2 Tangerang sehat ;)

Sebelumnya, hari Kamis siang sih aku dan seorang teman pulang ke Jakarta.Alasannya karena hari Jumat kami akan mengikuti ujian tulis ulang IPD (kata yang lebih menyenangkan dibanding Her). Ujiannya sih kata temen2 ngulang dari kumpulan soal, tapi aku ga belajar dari sana…jadinya ya..agak lambat gitu pas ngerjain. Yah mudah2an lulus.

2 minggu ++ lagi ujian tulis Anak, mudah2an tahun ini bisa lulus dengan baik.AMin.

Mmm, ceritanya lompat-lompat nih.Oia..di Tangerang banyak kasus Tetanus, gizi buruk dan penyakit ginjal.Kasian deh liatnya..Trus ketemu dokter anak yang agak ngaco dengan seenaknya meresepkan antibiotik padahal itu ga dibutuhkan pasien.Nyebelin deh liat orang kayak gitu…Rezeki orang kan sudah diatur Allah, jadi ga perlulah menipu pasien untuk membeli antibiotik yang tidak dia perlukan hanya supaya dia dapat bonus dari pabrik obat. Ih…norak banget deh.

Hmm, begitulah sekelumit cerita dari Tangerang. Secara umum cukup menyenangkan kok jaga di Tangerang.



cerita dari IGD anak
April 1, 2008, 6:11 am
Filed under: Uncategorized

Kemarin adalah hari pertamaku di bagian Anak tingkat 5 ini, dan aku bersama seorang teman lainnya mendapat “kehormatan” untuk bertugas jaga di IGD untuk pertama kalinya.

Kami berdua datang ke IGD jam 3 sore, dan menemukan keadaan yang cukup ramai dengan 1 pasien dengan thalassemia dan sedang menjalani transfusi darah, 2 bayi yang mengalami diare, dan 1 pasien balita dengan AML yang datang dengan perdarahan. Bingung. Akhirnya residen yang bertugas meminta kami memeriksa pasien dengan AML yang ternyata baru saja datang di IGD. Aku agak kaget ketika melihat pasien itu, tampaknya infiltrasi sel leukemia sudah menyebar di tubuhnya, membuat wajahnya tampak berbenjol-benjol dan dipenuhi titik-titik perdarahan. Tubuh kecilnya terasa panas ketika kusentuh, ternyata suhu tubuhnya 39,7 oC. Setelah selesai melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik, aku memasukkan obat penurun panas suppositoria, karena panasnya belum turun juga setelah minum obat. Selang beberapa waktu kemudian pasien ini mendapat tempat di bangsal perawatan dan segera diantar ke sana.

Santai?! Oh jelas tidak. Di ruangan yang cukup sempit dengan jumlah tempat duduk yang tidak memadai itu aku tidak bisa bersantai seperti ketika bertugas jaga di bagian Neurologi. Kenapa?! Karena entah dengan alasan apa, kuanggap sebagai jalan dari Allah supaya aku bisa lebih banyak belajar, pasien malam itu banyak sekali; bahkan dua di antaranya datang dengan keadaan syok.

Alhamdulillah ada juga bayi-bayi lucu yang masih tetap menghibur dengan senyum manisnya walau dalam keadaan kurang sehat, hehehe.

Ketika jarum jam menunjuk angka 12, datang segerombolan orang yang mengantar seorang anak. Mereka bertanya mengapa poliklinik anak tutup, dengan nada yang memancing emosi di tengah malam seperti saat itu.

Residen yang bertugas menjawab pertanyaan itu dengan agak jengkel juga, “ Aduh ibu, poliklinik itu buka pada jam kerja, kalo jam 12 malam seperti ini yang buka ya cuma IGD”. Si ibu tampak paham dan akhirnya si anak diperiksa. Kembali si ibu membuat jengkel dengan jawaban2nya yang berbelit-belit. Huh, sabar, kataku dalam hati. Akhirnya tinggal aku, dan ibu – anak itu. Aku melirik jam, 01.30. si ibu kembali bertanya dengan nada yang kurang enak didengar, “ Duh bisa ga anak saya langsung dirawat sama dokternya?”. Aku jawab, “ Loh , sekarang yang merawat anak ibu kan juga dokter. Maksud ibu apa?”. Si ibu menjawab,” Iya anak saya kan pasien dr.X (menyebut nama dokter senior di bagian Anak) dan Prof. Y. Bisa ga sekarang Prof.nya dihubungi untuk merawat anak saya?”

Wow, si ibu pede banget, kataku dalam hati. Padahal secara penampilan, tanpa bermaksud diskriminatif, gerombolan pengantar anak ini tampak seperti orang kampung kebanyakan yang sabar dan ga menuntut aneh-aneh. Karena capek aku jawab aja, “ Ibu, sekarang ini jam ½ 1 pagi Bu, dan ini jam orang istirahat. Saya rasa jam segini prof.nya lagi istirahat Bu. Jadi sabar ya Bu, biar dokter yang bertugas di sini yang merawat anak ibu sampai keadaanya stabil. Besok, bisa kita konsultasikan ke prof yang merawat anak ibu.”

Nggak tau deh mukaku waktu ngomong gitu kayak gimana. Kayaknya sih ga pake senyum manis.

Oia yang juga mengganggu selama di IGD anak selain kurangnya tempat duduk adalah bau asap rokok yang masuk lewat jendela IGD. Dan aku agak males juga harus melongok keluar jendela yang agak gelap itu untuk menegur siapa pun yang telah meng-ekspor asap rokoknya ke dalam ruang IGD. Bikin bajuku bau rokok.

Ada lagi sih…bau badan  keluarga pasien. Kalo pengantarnya cuma 1 sih aku masih bisa kompromi, lah kalo 5 sekaligus, baunya kan bikin enggak selera meriksa pasien. Baru inget deh, harusnya aku pake masker aja ya…supaya mengurangi paparan asap dan bau-bau nggak enak itu. Yah pelajaran lah untuk jaga selanjutnya.